ADISURANTHA.COM
jQuery Slider

10:43 am

HACKED BY LOLICYNDROME

20/11/2016, Fashion & Beauty

Hacked ?!

Dear Admin

Please patch your system


Hacked By LoliCyndrome

Read More >

2:09 am

FASHION REPORT: IPMI TREND SHOW 2017

13/11/2016, Fashion & Beauty

HIAN TJEN: IDE HIAN YANG MENCAIR

Baru ditahbiskan sebagai anggota IPMI tahun 2015 lalu, Hian Tjen kembali berpartisipasi pada peragaan tren tahun ini. Cairan yang merupakan elemen esensial  kehidupan menyirami medan inspirasi Hian. Karakter dari sebuah cairan yang begitu fleksibel dan kontradiksi menciptakan sebuah koleksi berjudul Osmosis.


Osmosis, yang merupakan perpindahan molekul air dari cairan menuju padat, merupakan tajuk yang dipilih Hian untuk 28 koleksi womens wear-nya. Koleksi dalam nuansa alur air yang segar sekaligus misterius, banyak tercermin pada koleksi gaun dan elemen atasan dan bawahan koktail bagi perempuan Indonesia yang stylishdan sophisticated. 


Hal yang ingin disampaikan Hian pada koleksinya ini untuk membingkai sebuah citra perempuan yang bangga akan feminitasnya namun juga berani, dan terdepan dalam bergaya. Hal itu terlihat dari beberapa padu-padan dan eksplorasi material avant-garde pada koleksi Osmosis. Contohnya saja pada material tulle, satin, organza, yang memiliki treatment khusus seperti nuansa shimmering dan tekstur pada bahan. Efek pada pilihan bahan bagaikan sebuah aliran sebuah cairan yang memiliki dua nyawa,  teduh namun juga bisa dramatis. Satu yang jadi ekperimen terbaru Hian rubber untuk tampil lebih elegan. “Saya mencintai wanita yang feminin, tapi dengan cara yang beda juga provokatif” Ungkap pria lulusan ESMOD Jakarta pada tahun 2003 ini.


Elemen busana yang ditampilkan Hian cenderung potongan klasik mulai dari gaun berpotongan A-line, siluet volume pada atasan dan coat, full skirt, flare pants, dan pensil.  Adapun potongan lebih berani pada cocoon coat, swimsuit, hingga atasan nuansa transparan yang berani dan individual. Semuanya dalam sapuan warna natural seperti nude, pastel, putih, silver, maroon, dan hitam, warna yang kontras untuk mendiami sebuah cairan. 


Permainan detail hiasan juga mengalir dengan anggun pada koleksi Hian Tjen, mulai dari aplikasi embellishment yang unik seperti pilihan payet dengan dekorasi unik, hingga potongan mini-ruffle pada atasan bermaterial tulle, dan gloves. Padu-padan juga tampil segar mulai dari gaun tube dengan atasan, celana dengan terusan dan coat, hingga swimsuit dan coat, hingga aplikasi belt yang minimalis.  Wajah gaya individual, namun tetap pada DNA Hian yang feminin dan elegan. 


Osmosis yang jadi kunci imajinasi Hian, menjadi siraman jiwa bagi individu perkotaan yang merindukan sebuah oase gaya hidup modern namun memiliki arti bagi jiwa. Hian menawarkan sebuah definisi glamour yang tampil baru yang sesuai bagi insan terkini yang berpikir global dan trendy.


YOGIE PRATAMA: NOSTALGIA MASA KECIL

Dalam rangka perayaan akbar IPMI yang ke-30 Yogie Pratama sebagai anggota muda ingin mengungkapkan kebahagiaannya akan perayaan itu dengan bernostalgia. Dirinya membuka ingatannya saat kanak-kanak dulu dengan rangkaian parade desainer IPMI seniornya memeragakan koleksi trennya. Yogie terinspirasi akan hal itu, dan mencoba untuk membingkainya kembali dengan semangat baru dan nadi karakter desainnya yang diberi nama: Gilded.


Gilded mencerminkan koleksi keemasan, palet yang mendominasi 21 koleksi womens wear-nya. Sapuan emas sebagai ungkapan perayaan mode ini hadir dalam kuasa metalik, efek shimmering dan shinny, karakter glamoritas yang abadi. Siluet klasik seperti volume yang extravagancemelalui ball gown, cocktail dress, evening dress, atasan, hingga bawahan bold dan feminin.

Salah satu gaya yang ingin disampaikan oleh Yogie juga hadir dalam koleksi Gilded adalah adanya detail exaggerated pada volume di bagian pinggul yang mengingatkan kita pada gaya new look atau era mode rococo, shoulder pad, pita hingga dada atau cone bra yang individual. "Saya merasa perempuan di era kini siluet tubuhnya kurang memikat, era 90-an terlihat lebih mempesona dan menggoda, karena itu saya mencoba untuk menampilakanya kembali." Kata desainer yang mencintai kota London.

Permainan dekorasi juga tampil dalam ramuan yang pas, seperti aplikasi bulu ostrich pastel hingga barisan kristal yang ditata dengan nuansa art-deco yang tegas. Hal itu ditemukan pada beberapa bagian pundak, dada, rok hingga motif dan tekstur pada material jacquard. Satu lagi yang spesial desainer lulusan Esmod Paris ini mencoba detail embroidery pada beberapa koleksi gaun yang terinpirasi dari eloknya alam, mulai dari bordir akar-akaran dan batang pohon di kala musim gugur yang puitis.

Material jacquard, lace, satin, organza, sutera, hingga beludru dikawinkan dalam satu koleksi yang harmonis. Contohnya saja pada material beludru yang akan jadi tren global musim ini, coba dikembangkan dengan aksen drapery pada pinggang gaun panjang, atau gaun midi-nya yang modern. 
Seluruh koleksi Yogie hadir dalam naungan ciri khasnya yang fitted, sharp, dan clean.

Gilded, merupakan keemasan yang tiada akhir, yang Yogie raih saat masa kanak-kanaknya melihat peragaan mode, suatu inpirasi, suatu era mimpi, yang kini membuat dirinya memiliki panggung modenya sendiri.

 

 
 
 

 

 

 

Read More >

1:49 am

FASHION REPORT: JAKARTA FASHION WEEK 2017

13/11/2016, Fashion & Beauty

BARLI ASMARA: MENDEKORASI BUSANA DENGAN APIK.

Lima Belas Warsa Barli Asmara, Diantara Gemerlap Ornamentasi, merupakan judul buku Barli Asmara yang baru dilansir di Jakarta Fashion Week 2017 untuk perayaan 15 tahun berkarya di dunia fashion tanah air. Didukung penuh oleh brand kecantikan ternama Indonesia, Wardah untuk pembuatan buku, Barli juga turut berpartisipasi pada presentasi kolektif pada peragaan bertajuk Youniverse pada 23 Oktober 2017 silam. 

Saat peragaan bagian dirinya dimulai, para model berjalan di atas catwalk dengan cepat, seketika koleksi keemasan menyinari panggungnya. Dengan tatanan rambut serba berponi, para model tampil pretty dengan riasan oleh tren terkini dari Wardah. Koleksinya kali ini mencerminkan dari judul buku yang ia terbitkan untuk khalayak mode. Seluruh koleksi busana tak kenal ampun, semua mendapat bagiannya dalam ornamentasi pengerjaan tangan tim Barli, mulai dari teknik macrame dan dekorasi embellishment. 

Deretan busananya terdiri dari item busana berpotongan wearable, mulai dari atasan lace, celana panjang dan midi, rok, terusan, hingga ragam luaran. Beberapa atasan hadir dengan potongan longgar seperti tunik yang ditata dengan dekorasi payet, atau juga atasan oversize dengan material renda yang diberi aksen kerut pada lengan dan detail unfinished serupa fringe tipis pada area lengan dan badan atasan. Untuk bawahan Barli menelisik tren terkini seperti celana midi bertabur kristal, yang terlihat dinamis dengan padanan jeweled booties-nya. Sedangkan rok pensil dan tulipe juga menjadi aksen tersendiri melalui pilihan material renda berpola bulat emas yang dipadankan dengan oversized blouse dan trench coat renda ala Barli. Terusan juga tampil memukau saat satu look lace dress-nya hadir dengan detail ruffle yang dilayer pada bagian tangan, pinggang sampai bawah terusan. Boxy dress bertabur kristal dengan lengan panjang, atau juga terusan loose dari renda yang diberi aksen wide belt dekoratif, hingga evening gown yang dipadankan jaket beraksen fringe. Terakhir, adalah luaran-luaran Barli yang diyakini bisa mewarnai wardrobe selebriti tanah air, karena memiliki efek signifikan bagi tampilan panggung. Barli meniduri jaket biker, trench coat, dan pea coat dengan dekorasi kristal dan mutiara yang berkilapan saat presentasi.

Padu-padan segar pada koleksi desainer yang tidak mengenyam bangku pendidikan fashion ini membuat elemen fashion-nya tampil segar. Namun, yang menjadi hero pada koleksi 15 tahun berkaryanya ini adalah kerajinan tangan dalam dekorasi payet yang selalu jadi andalan Barli dalam berkarya. "Saya selalu mencintai detail, dan dekorasi pada sebuah busana." Kata pria pengoleksi kaca mata ini pada saya lima tahun lalu. Mungkin hal ini juga  yang merupakan tahap pendewasaan bagi Barli. Setelah mengikuti perjalanan kariernya, saya melihat beberapa tahun belakangan Barli kerap melansir koleksi yang tak lepas dengan detail craftsmanship yang terus dikembangkan ekplorasinya. Busana bling-bling tampil lebih dinamis dengan tatanan geometris ,dan dihadirkan pada elemen berpotongan sederhana. Saya pun yakin, kelebihan pengrajin, tenaga payet, dan konsumen busana penuh kerlip di negeri tercinta kita ini tak pernah habis, walau berganti generasi sekalipun. Melihat gambaran hal itu memang Barli berada di momen gemerlapnya mode, namun semoga di momen dua dekadenya, Barli nanti bisa mencoba ornamen lain selai taburan kristal. Smocked mungkin? Yang sempat membuat saya juga terpana pada koleksinya di suatu malam silam itu.

YOSAFAT DWI KURNIAWAN: WANITA KOTA KEBANYAKAN?

Salah satu presentasi mode Jakarta Fashion Week (JFW) 2017 yang saya hadiri adalah desainer  muda, Yosafat Dwi Kurniawan yang mempresentasikan koleksinya secara kolektif di Indonesia Fashion Forward (IFF), bersama dua label fashion lainnya Friederich Herman, Lekat, dan By Velvet, yang diberi  judul Urban Rubble. Rangkaian 18 koleksi busana siap pakai wanita ini hadir dlam sapuan hitam dan putih, warna yang tak pernah absen di panggung peragaan manapun. Koleksinya hadir dalam atasan, terusan, bawahan, hingga luaran dengan potongan modern yang clean yang jadi kekhasan gaya rancang Yosafat.

Patung-patung granit antik Yunani dicetak dengan latar hitam sehingga terlihat menonjol. Adapun teknik digital print tersebut diterapkan pada beberapa bagian elemen fashion dengan kombinasi detail garis dan bahan pada atasan dan jaket, sehingga terlhat samar-samar. Potongan mini yang memperlihatkan kulit dengan lugas banyak terlihat dari elemen celana pendek, half-top, mini dress, terusan drapery, hingga aksi material tulle transparan pada atasan dan rok, seksi namun stylish. Ragam koleksi hadir dengan potongan sederhana pada fashion item-nya, beberapa twist padu-padan dengan obi diterapkan pada atasan tulle dan celana pipa, hingga atasan berkerah rendah dan tube aksen juntai panjang yang dipadankan dengan celana panjang dan pendek. Beberapa luaran juga hadir pada jaket boxy klasik melalui permainan corak dan embellishment. Soal dekorasi detail, Yosafat mencoba menempatkan detail payet dengan kadar minimalis, pada atasan, jaket, sack dress, hingga rok dengan pola horisontal. Dekorasi itu ditempatkan di pinggir rok atau badan rok, dada, dan kantong. 

Menurut saya, melihat koleksi Yosafat yang diiringi dengan nada lagu yang dramatis dan misterius itu, keduanya tidak saling memberi energi. Yosafat seperti kehabisan kreativitas dalam merancang busana,  beberapa elemen fashionnya tidak membuat saya surprise, semua potongan busananya sudah banyak terlihat, dilansir, dan kurang menyampaikan tendensi tren global bagi penikmat fashion. Koleksinya juga membuat saya de ja vu pada koleksi Yosafat yang musim sebelumnya, terlalu mudah diprediksi. Mulai dari permainan corak, eksplorasi material, padu-padan, atau detail hiasan dekorasi , kesemuanya seperti kehilangan denyut inovasi yang diharapkan datang dari desainer muda.

Memang ajang presentasi yang tergabung di IFF ini fokus pada kreasi desainer dengan koleksi siap pakai yang bisa dipasarkan segera dan jumlah yang besar, namun kreasi desainer lulusan Lassale College ini terlalu aman dan rapuh untuk berlaga dengan desainer muda lokal kini yang bertumbuh pesat dan penuh semangat, apalagi jika digelandang di pecaturan internasional. Koleksi wanita ini seperti untuk wanita kota kebanyakan, gaya yang sudah lama dikomsumsi, dan  jauh dengan titel fashion forward dalam berpakaian.

Padahal kepiawaian Yosafat dalam menggabungkan gaya feminin, dan potongannya yang struktural, merupakan suatu senjata dirinya dalam mengekplorasi kelebihan itu, yang kebetulan sedang tren dan banyak dieksplor pada wajah mode secara global. Feminin, namun tegas. Saya contohkan saja pada label asal Spanyol, Delpozo yang digawangi oleh Joseph Font, yang kini jadiperbincangan dan digandrungi banyak fashionista dunia, yang mencoba kedua kekuatan di atas dalam merancang busana. Namun bagi Yosafat kekuatan itu tak lantas berjalan dalam jalur desain yang kurang inovatif. Pengolahan pada print, dan embellishment yang minimalis pun menurut saya bisa menyempurnakan koleksi Yosafat, jika dirinya mau, dan berani untuk memotong pola pakaiannya dengan lebih penuh percikan kuat, sekuat patung-patung Yunani yang memahat koleksinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEWI FASHION KNIGHT: CYCLE OF TIME & CULTURE

Enam desainer fashion terpilih majalah Dewi mempresentasikan koleksinya yang dipayungi oleh tema Cycle of Time and Culture di Dewi Fahion Knight (DFK) 2016. Yang mana pilihan fashionista terdepan tanah air ? Saya merangkum laporan modenya :

 

DIDI BUDIARDJO: ADIBUSANA DARI JAWA

Parade ala sekaten, budaya dari Jawa, lengkap dengan seniman dan alunan musik secara langsung menutup parade desainer DFK malam itu, menggotong supermodel Indonesia Paula Verhoeven dengan gaun gala keemasan kristal yang cemerlang. Seketika, malam terasa glamor, magis, dan para tamu menatap ke atas tandu dengan takjub. Didi, seorang couturier Indonesia, sepertinya mengemas inspirasi seragam prajurit kraton Jawa ke panggung mode. 

 

Selain gaun bak seorang ratu di pembuka peragaan, ragam jaket pendek bernapas military hingga beskap juga seperangkat aksesori pendukungnya memperkuat medan inspirasi Didi. Hal itu terbukti dari permainan chain-embellished pada sebuah gaun koktil merah, dekorasi tali kulit keemasan pada bagian dada, dan trim pada jaket, permainan tassel dan juntaian bros layaknya simbol kehormatan,  dan topi-topi replika prajurit kraton Jawa yang sangat kental. Permainan kerah tinggi dan lebar juga banyak terlihat di koleksi Didi, baik pada jaket, terusan , hingga gaun galanya, menyiratkan kesan arogan seorang penganut feodalisme. Teknik embroidery juga jadi ornamen pada beberapa bagian kerah, memperkuat kesan kolonial yang memengaruhi sejarah tata busana kaum feodal tanah Jawa.

 

Beberapa jaket menyelimuti gaun long and lean ala Didi, gaun hitam, putih, merah dengan potongan tube-nya. Trik padu-padan juga hadir memberi kesan eklektik yang elegan seperti jaket, rok, celana temali, dan obi yang dipakai berbarengan. Ada kesan gaya androgyny yang melebur dengan keeelokan gaya ultra-feminin yang jadi kekhasan.

 

Pada koleksi Sekaten ini, desainer yang mengenyam pendidikan adibusana di Paris ini seperti ingin menyampaikan betapa agungnya sebuah adibusana. Hal itu terbukti mulai dari pilihan material yang mewah, pengerjaan detail dekorasi, dan teknik pengerjaan tangan, hasil pengerjaan jahitan tingkat tinggi dan prima. Kesemuanya itu hadir dalam sebuah potret budaya Indonesia yang berbingkai gaya eropa. Didi benar-benar tahu mengupas idenya. Namun, menurut saya ada satu yang Didi lupa, bahwa adibusana, dan mode terkini membutuhkan kreasi desain elemen fashion berwajah baru.  Suatu kreasi atau ide retro memang bisa jadi andalan, dan medan eksplorasi, namun mencoba merenovasinya dengan pembaharuan bisa menyempurnakan ide Didi untuk merayakan inggilnya sebuah mode.

 

Read More >

1:02 pm

ISSEY MIYAKE EXHIBITION. HARPER'S BAZAAR INDONESIA BY ADI SURANTHA

04/09/2016, Fashion & Beauty

Artistry, Ingenuity, and Virtuosity.

Pameran Issey Miyake mengekpresikan wajah fashion bercitra artistik.

Oleh, Adi Surantha.

Gelaran itu diadakan di The National Art Center, Tokyo sejak 16 Maret hingga 13 Juni 2016 lalu, untuk perayaan 45 tahun label mode ini berdiri. Bazaar Indonesia secara langsung melihat dari dekat koleksi busana desainer ikonis ini. Tajuk Miyake Issey Exhibition: The Work of Miyake Issey ini mengkurasi koleksi busana dari label ini berdiri di 1970 hingga kini. 

memasuki ruang pamernya seperti memasuki alam liar, membius mata dan hati dalam sebuah imajinasi tanpa batas. Kurator Yayoi Motohashi, dan arsitek ternama Tadao Ando menggiring Anda dalam sebuah konsep avant-garde berias futurist. Koleksi busana berdiri dalam sebuah patung manekin fiber glass, spot light, instalasi gigantisme, hingga gulungan tekstil tak berkesudahan yang membawa emosi yang penuh warna. Presentasi busananya juga mengajak pengunjung untuk lebih dalam menelusuri dapur dari Iseey Miyake, mulai dari mesin untuk proses pengerjaan kreasi lipitnya yang ikonis, hingga pengalaman untuk menata ragam busananya yang berkonsep 3-D, fantastic!

Insan kreatif kelahiran Hiroshima 22 April 1938 ini terbentuk dalam pendidikan seni di Tokyo, dan hijrah ke Paris pada 1965 untuk memoles minatnya pada fashion, bisa dibayangkan dari perkawinan dua aspek itu? Saat itu, di tengah bersinarnya mode haute couture, Mono-zukuri adalah pernyataanya, yang berarti membuat sesuatu yang beda, yang mewakili dirinya dan asalnya, budayanya. Ia ingin membuat busana yang artistik namun wearable, dan hal itu tercermin dari koleksi perdananya di Paris Fashion Week pada 1973. Koleksi ini hadir dalam satu ruangan berbias lampu sorot yang menyihir. Ia seperti ingin membuat busana yang memiliki hubungan mesra dengan tubuh pemakainya. Koleksi ini hadir dalam body suit dan jumpsuit bermotif tato layaknya second skin yang terinspirasi oleh Jimi hendrix dan Janis Joplin yang digeluti kaum muda masa itu, atau terusan beride dari sebuah sapu tangan berteknik bias cut, cocoon coat volume membungkus tubuh, hingga jumpsuit yang dipotong langsung dalam selembar kain. Kreasi ini membuat mata menoleh padanya di Paris.

Di ruang selanjutnya, kecintaan desainer yang pernah menjadi asisten Hubert de Givenchy ini pada sosok tubuh mencapai puncaknya. Ia bergumul pada gaya hidup hedonis yang marak pada era 80an itu. Imajinasi dan teknologi, diramunya dengan imajinasi ala kampung halamannya. Ia membuat sebuah bustier, body suit, dan atasan melekat tubuh dalam material inovatif. Ia beri nama Grid Body untuk koleksi lilitan tubuh, Plastic Body untuk sebuah bustier dari fiberglass berpulas merah, emas, biru, dan keabuan, Rattan Body untuk atasan dari kerajinan bambo rotan, dan Wire Body, pada sebuah korset dari lilitan kabel. Lalu, Waterfall Body , untuk sebuah atasan berteknik drapping pada kain jersey yang direndam silikon berefek air terjun. Koleksi ini seperti mengawinkan estetika timur dan barat, membuat banyak bibir fashionista di Paris membicarakannya saat itu.

Memasuki ruangan terakhir, merupakan rangkaian puncak bagi visi Issey Miyake. Pleats atau lipit yang membuat namanya harum hingga kini, disajikan secara akbar. Ia mengupas mode dengan caranya sendiri, mulai dari eksperimen pada fabric dan tekstur untuk mencipta sebuah siluet atau bentuk pakaian inovatif. Fabric merupakan denyut nadinya, di mulai dengan menggarap  Japanese washi paper, horse hair dan raffia, hingga polyester, dan natural fibers, berteknik pleats yang membuat bisnisnya penuh ekspansi. Koleksi itu hadir pada  koleksi berseri Cicada, Mutant, Border, Staircase, Moonlight, Seaweed, Flower, Monkey, Starfish Pleats dan banyak lagi yang membuat mata tercengang. Melihat itu, ia menerbitkan sebuah label khusus ini yang bernama Pleats Please Issey Miyake pada 1993, yang mendaulat dirinya sebagai penerima tanda kehormataan The French Légion d’Honneur dari pemerintah Perancis. Tak hanya sampai disitu  pada 1998 Issey Miyake dengan dengan dengan creative director barunya saat itu Dai Fujiwara, membuat kreasi seri A-POC (A Piece of Cloth) lini koleksi yang fokus pada pembuatan pakaian dalam satu benang dan proses tunggal, melalui bantuan teknologi komputer. Ragam koleksi rajutan dan sulaman dipresentasikan dengan gulungan garment raksasa yang digantung. Hingga proyek terakhirnya lini 132 5. Issey Miyake dengan ilmuwan Jun Mitani yang dipayungi The Reality Lab mencipta koleksi berefek 3-D dengan teknik lipatan atau origami untuk menjadi sebuah pakaian. Di area, dan era ini Issey Miyake benar-benar disoraki tak hanya oleh Paris dan negeri Mataharinya, Jepang, namun dunia. 

Seperti katanya, “Saya berkreasi dalam frase: Makin Think, Making Things, and Making Reality.” Ya, Dia merealisasikan sebuah definisi beauty dalam pahatan karya artistik.

 
 
 

ISSEY MIYAKE

SANG JENIUS MODE DARI JEPANG

Read More >

12:47 pm

HARPER'S BAZAAR INDONSIA ART 2016 STYLED BY ADI SURANTHA

04/09/2016, Portfolio

Read More >

12:35 pm

GRAZIA INDONESIA. AUGUST 2016 SYLED BY ADI SURANTHA

04/09/2016, Portfolio

 

 

 

Read More >
MAY 29, 2015 AT 3:53 AM

SAYS :


1 of 27 | 1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12  13  14  15  16  17  18  19  20  21  22  23  24  25  26  27 

"4 DECADES OF FASHION" A FASHION EXHIBITION CURATED & DIRECTED BY ADI SURANTHA FOR STUDIO ONE 40TH ANNIVERSARY


"4 DECADES OF FASHION" A FASHION EXHIBITION CURATED & DIRECTED BY ADI SURANTHA FOR STUDIO ONE 40TH ANNIVERSARY


ADI SURANTHA X TUTY CHOLID. JAKARTA FASHION WEEK 2016


ME WITH LANVIN MEN'S WEAR CREATIVE DIRECTOR, LUCAS OSSENDRIJVER


ME WITH VALENTINO'S CREATIVE DIRECTOR, PIERPAOLO PICCIOLI


ME WITH MIRANDA KERR AT LV


ME WITH GRACE CODDINGTON


ME WITH GLOBAL FASHION DIRECTOR CARINE ROITFELD AT HERMES PFW


ME WITH ANNA DELLO RUSSO AFTER CHANEL PFW


ADI IN H&M WANG


ADI SURANTHA FOR ALKISAH BY RIO MOTRET


ADI SURANTHA WITH BRYAN BOY


EXTRAORDINARY BEAUTY


SEMANIS AURA MANISH ARORA


NYONYA JUNYA


ABOUT ADI SURANTHA


ALL AGES, ALL RACES, ALL SEXES


AS X CLARKS


ADI SURANTHA X TRI HANDOKO AT JAKARTA FASHION WEEK 2015


ADI SURANTHA FOR CLARKS SHOES


TEST KANAN


AMBER TAMBLYN


CHANEL BOY


CHANEL RESORT 2016


BEAUTY DIARY


DIOR RESORT 2016


FAV PIC THIS WEEK


ADI SURANTHA FASHION BLOGGER FOR CLARK SHOES INDONESIA


ADI WITH TORY BURCH


ADI SURANTHA FASHION STYLIST FOR PLAZA INDONESIA 25TH ANNIVERSARY INSTALATIONS


ADI AT NEW YORK FASHION WEEK


TEX SAVERIO BEFORE LADY GAGA


FASHION PORTFOLIO. BAZAAR FASHION CONCERTO 2013 BY ADI SURANTHA


OH YOHJI


AMICA INDONESIA BY ADI SURANTHA


COSMOPOLITAN INDONESIA SEPTEMBER 2013. ART ISSUE. SPECIAL SECTION ART BY ADI SURANTHA


DEWI SANDRA BY ADI SURANTHA


ADI WITH GILES DEACON